Siap ber’eco-lifestyle dengan Daihatsu Cube


Go Green. Sebuah istilah yang belakangan ini menjadi kian seksi dan lebih dari sekedar action. Berawal dari adanya isu pemanasan global, timbulnya efek rumah kaca, menipisnya lapisan ozon, penghematan penggunaan energi listrik dll. Bayangkan saja betapa arogan nya kita jika tidak meninggalkan keragaman hayati Indonesia untuk generasi penerus. Namun seiring muncul nya sebuah perilaku “Green” contohnya, tentulah melahirkan reaksi. Ada yang benar-benar sadar untuk kembali melestarikan alam, ada yang hanya sekedar latah alias pencitraan. Lihat saja, banyak event-event di Jakarta yang bertajuk “Green”, baliho-baliho terpampang dengan isu Green.

Tidak sedikit juga perusahaan yang mendapatkan penghargaan Green Company karena kegiatan CSR nya yang sudah mengarah ke isu tersebut, sayangnya Indonesia termasuk negara yang sangat kaya alamnya, namun cukup terlambat menyadari pentingnya mengangkat isu Green menjadi “The Eco-Lifestyle”, itu yang paling dekat dengan kita.

Berbicara tentang Go Green, semestinya tidak hanya bertajuk hutan, tanaman, atau sesuatu yang hijau. Bisa jadi tentang air bersih yang mengkritis di Indonesia dan sanitasi, pengelohan sampah, atau perilaku Green. Ketika ada istilah Go Green tentu beriringan dengan sesuatu yang ramah lingkungan dan erat kaitannya dengan sustainability. Lihat saja, sekarang mudah kita temui istilah-istilah seperti Greenship, Green Building, atau Bahan bakar ramah lingkungan, alat transportasi yang menggunakan BBG juga di sebut ramah lingkungan, bahkan ada ponsel ramah lingkungan dengan material yang ramah lingkungan (eco friendly) dimana bahan-bahan tersebut dapat dengan mudah di daur ulang. Atau lihat saja petani-petani kita yang sudah aware dengan perkebunan organik, dengan menggunakan pupuk cair organik tanpa pestisida, meskipun dengan susah payah meyakinkannya.

Akibat dari semua itu, baru-baru ini Kementerian perdagangan (Kemendag) Indonesia juga memperjuangkan produk berbasis agro (pertanian dan kehutanan) Indonesia dapat masuk dalam daftar produk ramah lingkungan (EG list). Namun sudah cukup kah itu?

Mari kita lihat Jakarta, ibukota Indonesia tercinta. Ruang terbuka hijau yang tersedia tidak seimbang dengan jumlah kendaraan yang setiap tahunnya semakin meningkat akibat mudahnya memiliki kendaraan dengan fasilitas kredit. Polusi hampir merebak di seluruh penjuru Jakarta, produsen kendaraan pun tentu tidak ingin disalahkan. Harus ada jalan tengahnya antara Produsen, Konsumen dan Pemerintah. Produsen terus mengerahkan penemuan-penemuan canggihnya yang menurut saya bisa dijadikan peluang Niche Market.

Maka dari itu, produsen mobil asal Jepang, PT Astra Daihatsu Motor terus berevolusi dan berinovasi memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia akan Teknologi Hijau, yang terjangkau dan ramah lingkungan lewat sebuah mobil yang bernama Daihatsu Cube (masih berupa prototype).Image

Daihatsu Cube

Daihatsu menyediakan 3 tahap yang sangat nyentrik di teknologi terbarunya, yaitu Teknologi “Eco-Idle dengan sistem-EGR yang mampu menghasilkan pembakaran sempurna dan meminumkan keluaran gas CO2, tahap kedua berupa adanya mesin 2 silinder  turbocharged yang memiliki komponen yang lebih sedikit, sehingga lebih ringan, dan menggunakan sumber daya alam dan yang paling dikagumi adalah adalah Precious Metal Free Liquid Feed Fuel Cell (PMfLFC) yang berfungsi menghilangkan emisi gas buang CO2.

Image

Tentu ketiganya menjawab lebih awal akan hadirnya era penerapan  standar emisi Euro-3 (European Emission Standards) di Indonesia yang baru akan terlaksana pada tahun 2014 mendatang. Mengingat penerapannya membutuhkan waktu untuk proses penggantian mesin dan komponen pendukungnya, sementara yang dibutuhkan adalah ketersediaan bahan bakar beroktan 91 yang menjadi syarat standar emisi Euro 3. Ini terjawab dengan Tenologi Hijau Daihatsu Cube pada tahap pertama dan tahap ketiga yang berfokus pada pengurangan emisi (gas buang) dan penggunaan bahan bakar cair baru yaitu Hidrazin Hidrat yang sama sekali tidak menghasilkan CO2.

Euro-e atau European Emission Standard merupakan standar emisi hidrokarbon dan karbonmonoksida bagi kendaraan baru. Sesuai namanya, standar ini berasal dari Eropa.  Sejumlah negara di dunia yang peduli lingkungan sudah mengadopsi Euro-3. Tentu saja, Penerapan Euro-3 akan memberikan keuntungan bagi semua pihak. Artinya kocek yang dikeluarkan untuk membeli bahan bakar bisa dihemat dibanding sebelumnya. Bayangkan saja secara tidak langsung kita telah berperilaku Green (eco-lifestyle) saat mengendarai minibus “kotak” yang canggih, nyaman, harga terjangkau, dan ramah lingkungan seperti Daihatsu Cube.

Berperilaku hijau tidaklah rumit, bisa sambil bergaya dengan Daihatsu Cube.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s