Conversation: Heartless


Cinta itu Stabil (Adil)

Saling berusaha menjaga, mengerti, memaklumi, mengingatkan dan saling memupuk rasa

Jika itu dulu, berarti yang ada sekarang hanya ketidakstabilan, naik turun

Kata “saling” di tengah stabil itu artinya 2 pihak. Karena menjalani Cinta itu sendiri berdua

Jika hanya salah satu yang berusaha stabil, sudah pasti akan muncul beragam masalah

Yang satu terlalu banyak berusaha, yang satu terlalu sedikit bertahan

Orang mengatakan, kalau cinta harusnya tak kenal lelah, siapa bilang?

Cinta kan juga perasaan, punya takaran dan limit. Jangan disandingkan dengan kata Tulus, karena tulus itu tak bisa di ucap, hanya bisa rasa. Kalau terucap, itu bukan tulus namanya, sama halnya ikhlas.

Jadi kalau ada yg mengatakan cintanya tulus, itu bullshit, walaupun benar tetapi maknanya akan sedikit berkurang menjadi pamrih. Rasakan sajalah..

Tidak sedikit yang mengalami ketidakseimbangan ini. Jawabannya cuma 2, pertahankan atau lepaskan. Karena kata terakhir yang tersisa pasti “Lelah”. Oh kalau begitu kamu tidak benar-benar mencintaiku dong? Kok lelah? Ya tidak juga, kamu saja yang tidak sadar diri.

Bayangkan, fokus pada satu hal saja itu melelahkan, apalagi fokus pada orang yang cintanya sudah mulai tidak stabil? Sewaktu-waktu bisa suka, sewaktu-waktu bisa tidak suka. Jelas ini melelahkan bagi pihak yg terlalu banyak berusaha tadi. Se-adaptablenya seseorang tentulah tidak secanggih mesin yang timer nya sudah di setting untuk ready jika tombol ON OFF di tekan.

Jadi, jika sudah mulai tidak stabil, biasanya dia akan mencari beragam alasan untk dijadikan alasan akan naik-turunnya (elastisitas) sebuah hubungan. Yang terlihat salah siapa? Saya. Yang terkesan mengejar siapa? Ya hanya saya.Yang bodoh siapa? Hmm…  Lalu yang menjadi korban siapa? Pasti Dia. Biasanya sih gitu, ia menganggap dirinya sebagai korban dan lahirlah pembenaran-pembenaran, lalu tiba-tiba saya menjadi SALAH. Hal-hal yang tadinya bukan suatu masalah, tiba-tiba menjadi masalah yang di besar-besarkan, tiba-tiba menjadi awal perubahan  sikapnya, ya..pembenaran. Tidak seimbang.

Ahh kalau begitu, saya yang bodoh. Tidak juga. Jatuh cinta itu mudah, namun jatuh cinta dan menjadi cinta secara terus menerus itu yang tidak mudah. Kamu hebat, setidaknya pemenang untuk konsistensi hati mu sendiri, yaaahh..walaupun dimatanya kamu NOTHING. Jadi, aku harus gimana? Pergi karena aku tidak mau di PHP’in?  Pilihan. Kata kuncinya hanya ada pada keyakinan. Seperti dulu ketika kalian pertama kali bertemu, Yakinkah kamu mendampinginya? Apakah masih seyakin itu?

Apakah semua hal termasuk urusan hati harus selalu stabil? Siapa bilang? Tidak ada didunia ini yang benar-benar stabil, Cuma Allah yang maha stabil alias adil. Otak kanan dan otak kiri saja dibuat berbeda fungsi, apalagi hati? Yang mudah goyah., mudah dihantui penyakit hati.

Jadi dia tidak salah? Tidak. Dia juga manusia, sama sepertimu. Hanya saja sikapnya kurang tepat, bila ia sadar sedang tidak bisa memberikan keadilan perasaan, namun ia tak segera memperbaiki, minimal memberi notulen singkat sebagai warning bagimu. Kamu saja yang kurang beruntung, tetapi bukan berarti harus desperate. Ya, mudah mengatakannya memang, tidak semudah kamu melintasi garis itu kan? Tapi percayalah, jika kamu tetap melangkah meski terseok-seok hingga mencapai garis finish, disana ada piala yang layak kamu dapatkan.

Tapi aku ingin ia sebagai pialaku. Jangan egois, belum tentu ia juga menginginkanmu sebagai Piala nya. Lihatlah sorak sorai di luar lapangan sana, mereka menyambutmu, menantimu, menyemangatimu tanpa pamrih, siap memapah mu yang telah pincang akibat kecurangan.

Satu hal yang kamu lupa, orang yang kamu cintai dirumah, bukanlah orang yang sama di arena balap. Sisakan sedikit hatimu untuk siap menerima kekalahan, sandungan, atau bahkan pengkhianatan.

Tapi ia mengatakan ia Sayang padaku, hanya saja ucapan dan hati terkadang tak sejalan. Itu artinya ia tak bersungguh-sungguh saudaraku. Tapi bagaimana kalau realita memang tak harus sama seperti yang kita harapkan? Seharusnya pertanyaan itu sudah terjawab sejak awal ketika kalian memutuskan berlari bersama, bukan ditengah-tengah arena, karena kalian tidak akan punya cukup waktu untuk berkompromi saat terengah-engah karena lelah saling berdebat.

Bagaimana jika ia pernah melontarkan kalimat: Bolehkan suatu saat nanti aku yang mengejarmu? Artinya, ia sudah men-setting semua yang ia mau, ia tak merundingkannya dengan mu karena ia takut menyakitimu dengan harapan yang belum tentu ia bisa janjikan. Dan bahkan kalimat itu juga tak bisa kau pegang, percayalah. Boleh kau percaya tetapi jangan kau tunggu. Tetapi jika ia bersungguh-sungguh, maka ia akan datang sesuai rencananya, meskipun itu tidak adil bagimu.

Haruskah aku terus menunggu dan tetap menyayanginya? Apakah ia akan kembali? Karena salah satu alasannya meninggalkanku karena ingin mengejar duniawinya, cita-citanya. Apakah kamu mencintainya dengan tulus? Jangan di jawab, cukup rasakan..agar maknanya tak berkurang J

Ingat kata sahabatmu: Kamu akan memperjuangkan seseorang yang menemani mu saat mendaki, bukan yang menunggumu diatas puncak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s