TVC yang melupakan unsur Edukasi


Saat menonton televisi, sejak kecil memang saya lebih suka menonton iklan daripada konten acaranya sendiri. Saya senang memperhatian Goals dari iklan televisi. Dan mengikuti perkembangannya, sempat takjub karena memang TVC jaman sekarang sangat kreatif dan persuasif. Tidak sedikit diantara kita baik dari usia dini hingga dewasa yang menjadi “Korban Iklan”.

Namun dibalik semua itu, pernahkah betul-betul bijak dalam menilai makna dari kata “persuasif” tadi?. Banyak TVC yang justru “lebay” alias berlebihan dalam mengisi konten iklannya dalam segi promosi.

Salah satu contohnya adalah:

1.Iklan sepeda motor Yamaha yang diperankan oleh Komeng, Om Dedi Mizwar dan kawan-kawan. Karena ingin menekankan akselarasi kecepatannya dengan slogan “Yang lain semakin ketinggalan” maka Yamaha memberikan cuplikan kebut-kebutan hingga Jembatan runtuh, semua berterbangan, dandanan rusak. Tentu ini bertolak belakang sekali dengan aturan bersepeda motor yang seharusnya mengacu pada “Safety Riding” dengan tidak kebut-kebutan.

2. Iklan Sinyoku, didalamnya menggunakan terapi sugesti dari seorang magician untuk mempercayai bahwa lampu tersebut paling terang. Masa iya harus menggunakan sugesti dulu agar konsumen percaya? Ini mencerminkan perusahaan lampu tersebut kurang percaya diri (menurut saya)

3. Iklan Mie Sedap, dimana Papa menyuruh anaknya berbohong saat Pak lurah mengetok pintu mengajak kerja bakti. Si anak berkata “Aku ga punya Papa”. Hikss.. sungguh iklan yang tidak mendidik. Kebayang adik-adik kita, anak kita, cucu kita pinter berbohong seperti itu?

4. Honda Jazz New S, pada saat speedometer nya di sorot kecepatan diatas 100km/jam. Kenapa yah iklan-iklan kendaraan hampir sama? Mungkin maksudnya ingin menekankan bahwa hingga kecepatan demikian, kendaraan tersebut masih stabil. Tapi apakah tidak berfikir dampaknya? Misalkan saya, tentu ingin menguji sama seperti di TVC tersebut saat dijalanan. Safety Riding nya mana?

5. Chucky Bar, ada kalimat “tapi rela bagi-bagi?” Secara tidak langsung mengajarkan kita menjadi pelit heheheh…

Saya ga tau ini salah nya dimana. Dibandingkan TVC luar negeri memag belum seberapa, disana malah lebih banyak yang parah. seperti Iklannya Burger King, dimana mengandung unsur Porno aksi saat sepasang pemuda dan pemudi di dalam kereta. Tapi, apakah Indonesia harus sama? Its about “Moral”, kita tidak bisa membatasi generasi muda untuk tidak menonton televisi, dan tentunya apapun tontonannya mengandung persepsi yang berbeda-beda pula.

Iklan apa yang menurut mu meninggalkan unsur edukatif?

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s