Apa Kata Saya : 100 Hari Kerja Jokowi


Sebelumnya saya dimintai testimonial tentang 100 hari kerja Jokowi oleh salah satu stasiun radio swasta berbasis jurnalistik. Menarik. Rasanya saya adalah salah satu pendatang di ibukota yang ingin sekali memberikan komentar tentang hal tersebut.Spontan saya menjawab:

Saya bersyukur dengan adanya pemimpin baru untuk Jakarta seperti sosok Jokowi dan Ahok. Setidaknya memberikan warna baru dan bukan sekedar harapan kosong bagi warga Ibukota. Saya percaya segelintir orang terhipnotis dengan aksi –aksi beliau yang menurut saya sangat membumi dan terjun langsung ke tengah masyarakat. Realistis dan mengayomi. Mungkin sebagian orang yang tidak menyukainya akan berpendapat berbeda dengan saya. Wajar. Pro dan kontra itu harus ada demi masukan – masukan yang membangun.

Jika kita lihat pemimpin – pemimpin sebelumnya hanya sekedar meneruskan wacana dari yang sudah-sudah. Namun implementasinya pun sering kali dijadikan “lahan basah” untuk ruang koruptor. Dari yang baru beranin korupsi kecil-kecilan hingga yang sudah sangat lihai. Tapi apakah ada hasilnya? Ada, namun belum cukup signifikan. Masih jauh dari rayuan gombal yang mereka sampaikan di awal masa menjabat. Entah kenapa rasanya lama sekali untuk mewujudkan Jakarta yang aman dan tentram. Tidak tanggung-tanggung, kini Ibukota dari Indonesia ini pun kerap mendapat cap negative seperti kota metropolitan yang akrab dengan banjir, sarang koruptor, kota macet, dll diluar predikat baiknya sebagai pusat dari segala bisnis yang ada di Indonesia. Pusat perputaran uang di Indonesia yang persentasenya mencapai 80%. Saya sudah mendengar predikat ini sejak saya masih berumur 6 tahun ketika waktu itu pemimpin bangsa ini masih Pak Soeharto. Saat itu tontonan saya hanya TVRI. Tapi kok rasanya sampai sekarang kok belum usai yah?

Reporter menanyakan: Bagaimana menurut anda di 100 hari kerja Jokowi ini?

Tanpa pikir panjang saya langsung menjawab sesuai hati nurani. Ini saatnya dipertegas, seperti apa pemimpin yang sesungguhnya. Leadership saja tidak cukup. Tanpa dibarengin dengan rasa welas asih. Apa sih itu BIJAKSANA? Sekarang kok rasanya maknanya semakin absurd? Mau bertindak bijaksana saja kita terkadang malah malu-malu, takut di bilang sok baik. Bukan berarti yang sebelumnya tidak ada rasa ‘welas asih” yah. Tapi kurang merata saja. Benar kata pak Jokowi, “terkadang kita memang harus terjun langsung ke lapangan agar mendengar langsung keluh kesah masyarakat, soalnya kalau hanya mendengar dari bawahan saja kadang ada yang laporannya benar ada yang tidak”.

Kalau boleh saya tambahin pak, bukan gak bener, tapi pura-pura ga tau demi mengambil keuntungan sendiri. Contohnya? Pengelolaan sampah di Jakarta yang dihitung per kuota. Padahal yang namanya sampah kan ga bisa dibatasi. Jadi kalo jatah penanggulangan sebuah instansi untuk sampah udah sesuai kuota, maka kelebihannya ga bakal ada yang tahu menahu.akhirnya apa? Saling lempar tanggung jawab.

Bisnis ya tetap bisnis, tapi untuk saat ini unsur kemanusiaan dan sustainability sebuah perusahaan yang memenangkan tender itu kurang saya nikmati. Padahal tugasnya termasuk tugas mulia karena kebersihan adalah sebagian dari Iman. Tetapi kenapa menuju keimanan itu harus dibatasi dengan sejumlah angka dan kuota?

Sebagai masayarakat penghasil sampah juga semestinya tidak semena-mena memberikan judgment pada instansi tersebut. Yang saya tahu, semua permasalahan itu akarnya adalah kembali ke pribadi masing-masin. Sudahkan awareness kita terhadap himbauan “Buanglah Sampah pada Tempatnya” sudah di jalankan tertib? Saya berani menjawab TIDAK. Eits, jangan kesal dulu. Memang tidak semua nya melaukan kecacatan tersebut, tapi bukankah ada anjuran berikutnya adalah: Wajib saling mengingatkan? Yang saya lihat setiap hari adalah budaya individual. YANG PENTING GUE TERTIB, YANG PENTING GUE MEMBUANG SAMPAH PADA TEMPATNYA. Tapi ketika melihat orang disekitar tidak seperti, kita engan menegur karena malas di anggap BAIK. Terbalik. Miris.

Makanya tidak salah jika akhirnya beliau memutuskan akan mempekerjakan sejumlah pemulung yang digaji tdak sedikit. Saya membacanya, beliau membuat keputusan bukan hanya untuk 1 tujuan, tetapi beberapa tujuan seolah mampu memberikan tidka hanya sekedar solusi. Membuat Jakarta bersih sekaligus memberdayakan manusia, sungguh mulia.

Ada lagi yang bikin saya mengagumi sosok Jokowi adalah ketika beliau mau masuk ke gorong-gorong dan kawasan kumuh. Sesaat saya tepuk tangan kegirangan mendengar berita itu walaupun entah wacana kedepannya akan sesuai dengan harapan masayarakat Jakarta atau tidak. Setidaknya itu sebuah langkah mulia yang sangat jauh dari kata arogan.

Saya heran, mengapa seorang pemimpin atau seorang berada harus identik dengan kata mewah, takut kotor, dan serba kaku? Hati kecil saya berkata: “Ga harus gitu juga kale”. Maap. Yaa memang itu yang terbersit di lubuk hati saya. Bukankah semua kita sama? Hanya saja amanah yang diberikan berbeda-beda, namun harusnya kita tidak membedakan status yang dibuat-buat itu toh?

Saya berharap, Jokowi dan Ahok tetap menjadi diri sendiri. Tidak kaku karena terikat dengan istilah “on the rules”. Karena menurut saya, belum tentu rules yang sudah ada sekarang adalah yang terbaik, tugas manusialah yang terus ber-evolusi menuju kebaikan. Jokowi dan Ahok adalah sosok yang membuat rencana dari segala arah dan long therm. Saya hanya berdoa, semoga amanah yang sudah dititipkan pada mereka dapat dipermudah dna didukung oleh segala lapisan masyarakat di Jakarta khususnya dan bisa menjadi contoh untuk pemimpin daerah lainnya. Tidak hanya berfikir “mengembalikan” modal kampanye dulu saja.

Jokowi dan Ahok itu sama – sama manusia biasa seperti kita. Jadi, jika ada point minus nya juga tidak apa-apa. Kenapa harus “ramai” mengkritisi keburukannya? Daripada sibuk mengkritisi kegelapan, mending kita sama-sama menyalakan lilin didalam kegelapan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s