Guruku, Aku Hebat Karenamu


Hari ini 5 Oktober, lebih dari 100 negara sedang merayakan Hari Guru Sedunia. Dimana sejak tahun 1994 lalu, UNESCO mengakui peran vital tokoh-tokoh guru di dunia yang sangat berjasa dengan kualitas manusia di Negara-negara tersebut. Setiap Negara tentu punya Hari Guru yang berbeda-beda termasuk Bangsa kita, Indonesia yang biasanya merayakan Hari Guru bertepatan pada hari PGRI setiap tanggal 25 November.

Pada hari guru ini menekankan bukan hanya pada kepeduliaan dan  kesejahteraan seorang guru saja, namun juga perbekalan yang dimiliki seorang guru tersebut. Profesi Guru ini menjadi sangat mulia karena entah berapa banyak orang-orang hebat di dunia yang telah sukses berkat guru-guru yang dengan sabar melayani kenakalan – kenakalan, keberagaman watak, dan juga tipe murid yang harus dihadapi dengan treatment yang berbeda-beda. Namun apakah para Guru kita pernah bosan? Tidak. Mereka telah mencetak ratusan, jutaan bahkan milyaran manusia cerdas di Indonesia bahkan di Dunia yang tidak pernah sedikitpun meminta balasannya ketika beliau tahu murid nya telah berhasil mencetak lembar demi lembar uang, telah berhasil membangun negeri, bahkan telah menjadi pendidik berkulitas lainnya.

Percaya atau tidak, bahwa apa yang kita jalani sekarang sesungguhnya sudah kita dapatkan sejak saat berada di bangku Sekolah Dasar. Mari kita flashback lagi, ketika kita berseragam merah putih, beliau mengenalkan kita pada angka-angka ajaib yang kini menjadi nominal di perusahaan kita. Mengenalkan cara berbahasa Indonesia yang baik, namun sayangnya belakangan sering kita modifikasi dengan bahasa gaul dengan alasan tuntutan jaman. Beliau mengenalkan kita keberanian untuk melakukan presentasi di depan kelas sejak dini yang ternyata ilmu itu kita gunakan setiap presentasi atau saat negosiasi di depan klien.

Saya sendiri mendapat pelajaran berharga tentang “menghargai waktu” dan bagaimana menjadi seorang problem-solver  ketika sejak di kelas 2 SD dari Guru Matematika saya. Dimana saat itu beliau meminta kami sekelas untuk mengerjakan 5 buah soal Matematika pembagian dengan hadiah diperbolehkan pulang lebih awal. Kami semua tahu, meskipun eluar kelas lebih awal pada akhirnya kami akan tetap menunggu bus sekolah yang sama jadwalnya. Namun bukan itu point-nya, yang mesti di highlight adalah mendapatkan “Kebanggaan” tersendiri ketika menjadi murid yang lebih awal keluar kelas apalagi dengan nilai yang fantastis.

Saat itu saya menangis, karena saya telah salah langkah karena mengerjakan soal tersulit dengan anggapan menggunakan pribahasa “bersakit-sakit dahulu, bersenang kemudian”. Ternyata ini tidak bisa diterapkan dalam Ilmu pasti. Saya adalah salah satu dari 5 siswa yang nyaris ketinggalan. Hingga akhirnya Bu Guru saya mendekati meja dan mengatakan kalimat ajaib yang hingga kini masih saya kenang dan saya jadikan panduan: ” Kerjakan dari yang termudah, agar kamu tidak berkutat dengan soal yang sama”. Kalimat sederhana yang setelah beranjak dewasa saya baru mengerti maknanya. Sebuah kalimat yang merubah sudut pandang saya terhadap sebuah masalah. Sebuah kalimat yang bisa kita jadikan filosofi hidup. Sebuah kalimat yang kini telah menjadikan saya menjadi manusia yang lebih menghargai waktu , teliti dan cermat.

Ada yang pernah mendapatkan hukuman di setrap atau hormat bendera berjam-jam? Ini adalah hukuman paling popouler di bangku sekolah ketika kita melakukan kesalahan. Bukan lelahnya, namun saat itu kita sedang diajari rasa malu dan jera di depan teman-teman lain. Bergunakah hukuman itu di masa sekarang? Pasti. Kita menjadi manusia yang memiliki good considerations saat membuat Plan A dan Plan B beresiko dengan menggunakan rumus minimum false.

Bersyukurlah, berbanggalah, berterimakasihlah pada mereka Guru-guru luar biasa yang menjadikan kita sebagai manusia berkualitas. Andai saja sejak dini kita menyadari nasehat-nasehat yang mereka ajarkan, mungkin kita tak segagal sekarang dalam mengatasi masalah pendidikan di Tanah Air.

Ada dua tipe manusia cerdas, yaitu: Cerdas untuk diri sendiri dan cerdas untuk dibagi. Jika dahulu kita hanya menuntut ilmu, mengejar prestasi dan nilai untuk kebanggan diri sendiri, maka saat ini rubahlah menjadi “menuntut ilmu untuk dibagi” kepada sesama.

Guruku adalah penyelamat masa depan ku

Guruku, adalah penyelamat suatu bangsaku

3 thoughts on “Guruku, Aku Hebat Karenamu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s