Siaran, Berbicara di Media Publik untuk Seseorang


Ketika saya baru memulai menggeluti dunia radio, saya sering terjebak dengan asumsi bahwa pada saat saya siaran, banyak orang akan mendengarkan. Maka saya ber-siaran seolah berbicara dengan orang banyak. Hasilnya, bukan ga jarang kita menemui Penyiar yang kadang – kadang sok asik sendiri, heboh sendiri, merasa dirinya lucu (padahal tidak), merasa paling “serba tahu” walaupun emang di tuntut untuk berwawasan, penyiar yang over confident padahal tidak menguasai materi yang disampaikan dll.

Namun seriring waktu, saya menyadari bahwa asumsi itu salah besar. Justru saya tidak bisa “menyatu” dengan audience. Lalu saya mencoba membalikkan asumsi bodoh itu tentunya dengan berbekal dari beberapa buku dan menyaring experience senior – senior dan praktisi radio lainnya. Yap, saya mulai ber-siaran dengan menganggap bahwa :  Saya sedang berbicara dengan seseorang, di depan saya, face to face bila perlu heart to heart.

Berhasil. Saya merasa lebih dekat dengan pendengar, begitu juga sebaliknya. Kebetulan saya sering membawakan acara – acara radio berkonten sosial, religi dan bersifat interaktif. Dan itu menyenangkan jika pada saat kita sharing di udara lalu orang lain bisa mendengarkannya. Setidaknya mewakili pertanyaan – pertanyaan mereka dan memposisikan saya sebagai pendengar biasa, bukan sebagai moderator, presenter atau penyiar.Tapi juga jangan maruk, sampe-sampe audience ga bisa nanya apa-apa lagi karena udah terlau”diwakili” oleh penyiar nya😀

Biasanya, jika kita berasumsi demikian, kita akan lebih hati – hati untuk mengeluarkan kata-kata. Sangat ingin menjaga perasaan orang lain, sangat ingin menghargai pendapat orang lain.

Menurut pengamatan saya, pendengar akan lebih merasa di hargai jika menganggap mereka “dekat”. Itulah kekuatan sebuah media yang tidak dimiliki oleh media lainnya. Kekuatan Emosional.

Seorang penyiar radio mampu mengikat pendengar nya selama ia mampu menjadi tokoh idola yang behave dan friendly bagi siapa pun (menurut saya). Tidak hanya di udara saja, namun pada saat off air juga. Penyiar radio terlibat langsung dalam kehidupan sosial seseorang. Berbeda dengan televisi atau media cetak. Penyiar radio dapat langsung mengetahui kondisi emosional seseorang hanya dengan ber-interaktif by phone. Itulah kekuatan suara.

Saya pernah membaca sebuah penelitian yang mengatakan bahwa sebuah seruan berupa ajakan positif melalui media suara lebih efektif ketimbang melalui media lainnya. Karena dampaknya itulah mengapa sebagai penyiar “semestinya” hanya menyiarkan hal – hal yang baik saja. Tapi kita masih banyak mendengarkan berita – berita buruk yang tersiar melewati media radio. Bukan berarti tidak di perbolehkan menyebarkan berita yang mengandung hal – hal negatif, seperti kriminal, prestasi buruk artis, korban bencana alam atau kecacatan – kecacatan lainnya. Tapi setahu saya, Radio adalah media yang paling pintar men-sortir atau menyunting bahasa siaran yang lebih baik, bukan yang bersifat provokasi negatif.

Kembali ke topik sebelumnya. Peyiar radio adalah sosok yang seharus nya yang paling bisa menyelami pendengar nya yang sangat beragam. Ada yang kritis, ada yang selalu galau, ada yang hanya doyan request lagu, ada yang tidak suka penyiar nya banyak ngomong, ada yang ekstrim dan agresif, dan ada pula yang rasis (bahkan).

Makanya saya lebih suka menyampaikan sebuah informasi setelah saya mengerti betul makna dari info tersebut lalu menyampaikan nya dalam bahasa sehari-hari yang santun. Bukan Text book. Ini untuk menghindari kesan menggurui dan sok tahu. Berusaha jujur dan apa adanya dengan menambahkan sedikit testimonial (bukan pendapat loh) sebagai bahan compairing mereka untuk ber-opini, seandainya kita (penyiar) menghadapi atau mengalami kasus seperti yang di dalam script, apa yang akan kita lakukan? Tentunya faktor Smiling Voice tidak bole di tinggalkan loh.

Rasanya pendengar akan mendapat perhatian khusus dari seorang penyiar yang bertutur kata seolah hanya dengan diri nya saja bukan? Tidak percaya? Mudah, cukup di terapkan 2 asumsi tadi di udara, dan buka line SMS sepanjang kamu ON AIR dan sampaikan short message berupa informasi yang membutuhkan opini, tidak perlu info berat dan serius, cukup yang ringan saja. Berdasarkan pengalaman saya  yah, misalkan:

Ada yang lagi OTW ga yah? Mau tanya dong, apa makna lampu kuning di Traffict Light yah?  lalu teruskan dengan pertanyaan susulan : Sudahkan kamu bener-bener mengerti makna “lampu kuning” tersebut?

Sebuah pertanyaan sangat sederhana yang bisa di jawab oleh siapapun. Saya yakin semua orang tau dan menjawab ‘Hati-Hati”. Namun, maukah mereka memberikan tanggapan ke line SMS kamu? Apakah mereka bela-belain menyempatkan mengirimkan sms nya? Semua tergantung cara kita menyampaikan pesan nya toh? Bayangkan saja, jika pertanyaan diatas di sampaikan dalam bentuk bahasa baku yang formal? Haiyah!

Yang terpenting adalah : APAKAH KAMU DI DENGARKAN. Ya, tapi belum tentu di hiraukan. Satu – satunya cara adalah, penyiar harus memasuki emosi pendengar nya terlebih dahulu untuk mendapatkan perlakuan yang sama. Meraih Perhatian.

Jika saya sebagai penyiar nya, setelah membacakan beberapa opini tersebut saya akan meneruskan dengan Closing Talk : Wah, berarti kita semua tau ya lampu kuning artinya HATI – HATI, tapi kok kenyataannya justru banyak yang malah melaju yah saat lampu kuning menyala? (biar ga keburu merah lagi)

Deziiinggg.. putarkan lagu nya Teriyaki Boyz – Tokyo Drift (atau yg sarat dengan kebut-kebutan) biarkan closing talk itu megambang, anggap saja kita sedang merangsang pendengar untuk introspeksi.😀

– CMIIW –

3 thoughts on “Siaran, Berbicara di Media Publik untuk Seseorang

  1. Nice article.. Its sooo true! Bener bangettt…
    Our listeners don’t need another wise guy. They simply need a friend..

    Ah jadi penasaran pengen dengerin siarannya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s