Motif Batik dan Makna nya


Dahulu Batik masih sangat terkesan kolot dan sangat tidak kekinian. Batik dulu nya hanya di gunakan pada saat acara-acara khusus saja, acara adat dan acara resmi. Namun semenjak Batik di klaim menjadi salah satu warisan budaya Indonesia, maka menggunakan Batik merupakan sebagai trend dan bahkan sekarang instansi pemerintah maupun swasta sudah di wajibkan menggunakan Pakaian batik di hari tertentu.

Ini merupakan suatu bukti bahwa BATIK sebagai warisan para leluhur yang harus kita jaga dan tetap di budaya kan.Saya hanya ingin sedikit menyumbang foto-foto yang saya ambil langsung di perempatan Kantor Pos (lama) dari Kota Yogyakarta beberapa waktu lalu. Mungkin tidak detail, tapi setidaknya kita punya sedikit referensi ketika hendak memilih motif/corak batik yang akan kita pilih :

  • Motif Kawung

Motif ini berarti AREN yang bentuknya diangkat dari Buah Randu berisi kapuk berwarna putih yang mengandung elemen Sukra (Sansekerta). Melambangkan Kekuatan Raja Manusia.

  • Motif Parang (Barong)

Motif ini diangkat dari cadas – cadas gunung sebagai simbol Girisa (Sansekerta) yang melambangkan kekuasaan raja khusus untuk Perang Barong. Dahulu, hanya dikenakan oleh Raja pada upacara kerajaan.

  • Motif Parang Kusuma

Parang adalah ketajaman berfikir

Kusuma adalah Bunga

Melambangkan harapan menjadi orang yang selalu menjaga dan menjunjung tinggi keharuman atau nama baik diri pribadi, bangsa dan negara. Dahulu, motif ini biasa digunakan oleh para ksatria.

  • Parang Parikesit

Melambangkan kepemimpinan yang kuat, tajam dalam rasa dan pikir serta tegas dalam tindakan. Dahulu merupakan motif larangan yang hanya boleh dikenakan oleh Raja dan keluarganya.

  • Parang Mangkara

Pada motif ini, pola parang di hiasi motif mangkara yaitu stilisasi dari mahkota yang dikenakan oleh Raja. Motif ini melambangkan bahwa seorang Raja harus melindungi rakyat nya.

  • Motif Gringsing

Bentuknya diangkat dari Bunga Anggrek berbintik-bintik berwarna merah yang mengandung elemen Swanita (Sansekerta) melambangkan Kekuatan Jiwa Manusia.

  • Motif Poleng

Motif ini berarti belang yang diangkat dari bidang warna semula Putih, Merah, Kuning, Hitam dan Biru yang melambangkan Makro Kosmos :

- Putih (Endra) adalah simbol dewa kesuburan

- Merah (Yama) adalah simbol dewa maut/kematian

- Kuning (Waruna/Baruna) adalah dewa laut/angin

- Hitam (Wisnu) adalah dewa pemelihara

- Biru (Syiwa) adalah dewa segalanya

Kemudian berubah menjadi 4 mikro kosmos yaitu: Putih, Merah, Kuning dan Hitam. Sebagai simbol 4 nafsu manusia yaitu : Mutmainah, Amarah, Lauwamah dan Supiah. Lalu berkembang menjadi 2 warna, yaitu: Putih dan Hitam sebagai simbol Rwa Bhineda yang berlainan saling mengisi yang melambangkan keegasan keselarasan.

  • Motif Nitik Cakar

Motif ini melambangkan kekuatan manusia untuk berjuang.

  • Motif  Semen Rama

Diambil dari nama Prabu Rama Wijaya dalam cerita pewayangan Ramayana. Motif ini terdiri dari Asta Brata (asta delapan) yang di wejangkan kepada Gunawan Wibisana saat akan di nobatkan menjadi Raja di negeri Alengka. Asta Brata terdiri dari :

- Endra (kemakmuran)

- Yama (adil)

- Surya (keteguhan hati)

- Sasi (penerang)

- Bayu (berbudi luhur)

- Dana/Baruna (sejahtera)

- Pasa (berhati lapang)

- Agni (sakti menumpas angkara murka)

  • Motif Peksi Manyura

Peksi berarti burung. Manyura berarti Merak. Menggambarkan kecerian merak diantara lung anggur. Motif ini merupakan karya cipta RM. Notoadisuryo kerabat Pakualaman pada tahun 1920-an.

  • Motif Grompol

Motif ini berasal dari kata menggeompol atau berkumpul menjadi satu senasib sepenanggungan dalam keadaan suka dna duka. Motif ini dikenkan pada rangkaian upacara daur hidup antara lain perkawinan yang melambangkan bersatunya dua keluarga yang berbeda.

  • Motif Srikaton

Motif ini berarti seorang Raja/pimpinan yang harus mampu menjadi contoh yang baik (panutan) bagi rakyatnya dengan memiliki sifat adil berperikemanusiaan dan konsisten dalam kata dan perbuatan.

  • Motif Lereng Tathit Garuda

Motif ini merupkan pola lereng yang merupkan rakyat Yogya. Banyak di hasilkan oleh pembatik di wilayah Semanu, Gunung Kidul. Menggambarkan Tathit (kilat) yang sering terlihat, sebagai ungkapan kekaguman pada fenomena alam.

Sebenernya saya masih punya banyak di catatan. Rela berdiri dan jangkong lama loh di perempatan ini sampe orang2 ngira saya turis (ehh) emang turis domestik kan yah :D saya cari dulu yah foto-fotonya. kehilangan nih.

Disini gambar nya agak buram mohon di maklumi karena saat itu dalam keadaan hujan rintik -rintik nan romantic.

To be continued ..

Indahnya berbagi…

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s