Pulau Penyengat dan Sejarahnya


Bismillahirrahmanirahim ..

Alhamdulillah sampe juga di pelabuhan Pulau Penyengat yang pelantar sekarang sudah jauh berbeda dari beberapa tahun silam. Lebih bagus dan sudah di Beton serta di beri atap agar pengunjung/penduduk setempat nyaman.

Berhubung karena saya napak tilasnya bertepatan dengan Lebaran kedua ( 2 Syawal 1432 H) jadi bener saja ternyata pengunjung dari berbagai jurusan sangat padat memenuhi pelataran Mesjid Penyengat, tujuan utama saya.

Sampai disini, saya lalu mejalankan niat saya untuk ber-Dzuhur sini. Menurut mitos yang beredar, jika kita sudah memiliki niat apapun menuju ke tempat syakral ini, maka hendaknya harus di laksanakan. Beberapa teman saya mengaku, ketika mereka lupa maka akan ada sesuatu kejadian yang mengingatkan kita untuk memenuhi niat tersebut (believe or not). Ada lagi yang mengatakan, jika yang berkunjung adalah single, alias belum punya pasangan maka InsyaAllah akan di pertemukan oleh jodohnya. Sebenernya, semua Doa yang kita haturkan di tempat baik ini yang kita minta pada Allah SWT dengan keikhlasan dan hati yang tulus, InsyaAllah akan terijabah.

SEJARAH SINGKAT

Pulau Penyengat ini terletak di sebelah Barat kota Tanjung Pinang sejauh lebih kurang 1,50 KM. Luasnya tidak  lebih dari 3,50 KM. Sebagian besar penduduk nya bermata pencaharian sebagai Nelayan, buruh lepas, Pegawai Negeri dan pekerja swasta di Tanjung Pinang. Alkisah, legenda mengatakan nama PENYENGAT di berikan kepada pulau ini di karenakan  beberapa waktu yang lalu (sebelum zaman kerajaan) ada beberapa pelaut suku Bugis yang datang mengambil air bersih dan saat itu di serang oleh Penyengat (lebah) yang mengakibatkan 1 orang meninggal dunia. Sejak saat itu, beberapa rekan nya menamakan pulau ini sebagai Pulau Penyengat.

Pada tahun 1803, pulau penyengat di bina pusat pertahanan menjadi Negeri dan kemudian berkedudukan Yang Dipertuan Muda Kerajaan Riau-Lingga. Sejak saat itulah, Pulau Penyengat sebagai pusat pemerintahan, adat istiadat, agama islam dan kebudayaan melayu.

Perkawinan antara suku Bugis dan penduduk asli Penyengat (anak Sultan) di nobatkan sebagai Yang Dipertuan Muda. Ada 10 Raja yang pernah berada di Pulau ini dan yang terakhir hijrah dan wafat  di Singapura yaitu Sultan Abdul Rahman.

Pulau ini merupakan mas kawin atau mahar dari Sultan Mahmud Syah ke-3 untuk Engku Puteri Permaisuri Hamidah. Namun sayangnya beliau wafat di Dabo Singkep hingga makam beliau dan Istrinya terpisah.

TENTANG MESJID PENYENGAT

  Mesjid Penyengat ini di bangun/di renovasi oleh Yang Dipertuan MudaVII, Raja Abdul Rahman (Marhum Kampung Bulang). Mesjid ini didirikan pada tanggal 1 Syawal tahun 1249 H ( 1832 Masehi ). Bangunan asli nya terbuat dari kayu dan telah di renovasi dengan menggunakan bahan seperti putih telur sebagai campuran kapur untuk memperkuat beton kubah, menara dan bagian – bagian tertentu. Kuning telur sebagai cat beton. Namun Mesjid yang kita temui sekarang tentulah udah sangat indah dan bersih.

Mesjid ini berukuran Panjang 19.80 meter dan Lebar 18 meter.Didalam nya di topang oleh 4 pilar beton.  Di setiap penjurudibangun menaratempat Bilal biasanya menyerukan Adzan. Ada 13 kubah di tambah 4 yang berbentuk persegi. Seluruhnya berjumlah 17 buah menara dna kubah, yang sesuai dengan Raka’at Sholat wajib umat Islam sehari semalam. Subhanallah. Di dalam Mesjid ini juga tersimpan sebuah Al Qur’an yang di tulis tangan Sultan Abdul Rahman yang sempat sekolah di Mesir pada tahun 1867.

Menurut cerita, Beliau memiliki guru yang bernama Alm. Habib Syekh Bin Alwi Assegaf yang masih keturunan Nabi Muhammad SAW. Beliau juga guru dari Raja Ali Haji Sang pujangga kerajaan penggubah Gurindam 12.

Berikut susunan pemerintahan kerajaan :

Sultan –> Raja –> Perdana Menteri –> Temenggung

Di sekitar Mesjid ada 2 ruang tempat belajar dan 2 tempat berkumpul/berbuka puasa.

Tempat berkumpul

  Tempat Sandal

Bedug di ruang belajar

Disekitar mesjid juga di sediakan Bemor alias Becak Motor yang akan membawa kita mengenal peninggalan sejarah disini dengan hanya membayar Rp 25.000,- untuk berkeliling.

Ketika saya tanya pada pengemudi, mengapa motor yag di gunakan semua Motor GL Pro? Agar kuat menaiki tanjakan – tanjakan yang ada.

Untuk wisatawan, ada pilihan jika ingin menjelajahi peninggalan sejarah ini dengan menggunakan Sepeda. Masyarakat setempat juga menyediakan Rental sepeda bermerk Polygon dengan menghubungi :

0771-451048 atau 081370533376

Alamat : Halaman Balai Desa

Jika saya ceritakan sejarah nya, mungkin tidak akan cukup satu halaman kali yah. Sejarah lengkapnya bis adi baca di buku yang disusun oleh R. Hamzah Yunus yang bisa kita dapatkan ketika berkunjung ke Pulau Penyengat.

Jangan heran ketika kita mampir di pulau ini hanya akan melihat sedikit sekali peninggalan – peninggalan kerajaan Riau-Lingga. Hal ini di karenakan Sultan dan pembesar-pembesar nya memerintahkan kepada rakyat nya yang tinggal di Pulau ini agar meruntuhkan bangunan-bangunan, menanami lahan yang kosong dan menghancurkan apa saja yang sekiranya akan di rampas oleh Belanda. Maka dari walau belum 100 tahun kerajaan Riau-Lingga berakhir, sisa-sisa keagungan kerajaan ini sudah pupus dan hanya tinggal puing yang berserakan.

Namun saya akan menunjukkan beberapa bangunan yang sudah di renovasi oleh pengurus setempat.

Komplek Makam Raja Hamidah (Engku Puteri)

Makam Raja Hamidah

Gedung Tengku Bilik

Gedung ini adalah milik Tengku Bilik adik Sultan Riau-Lingga yang bersuamikan Tengku Abdul Kadir.  Gedung ini adalah pusat pembuatan/tenun kain. “Bilik” disebut juga  ruangan/tempat. Tengku Bilik wafat di gedung ini saat menenun dan beliau jarang sekali keluar dari bilik (ruangan) nya.

Balai Adat Melayu Indera Perkasa

Disekitar balai adat ini terdapat 4 gedung yang lebih kecil, yaitu 2 di sisi kanan dan 2 di sisi kiri. Selain itu juga ada sebuah panggung yang mngkin dahulu nya di pergunakan untuk pertunjukan adat.

Gedung di sekitar Balai Adat

Bagian dalam Gedung Balai Adat

Panggung

Pelantar di depan Balai Adat

Di halaman Balai Adat ini juga tersedia penjualan hasil kerajinan masyarakat setempat berupa T-Shirt dan hasil laut seperti kerang yang di jual dengan harga yang sangat terjangkau.

Gedung Mesiu

Gedung berdinding tebal, gubah bertingkat dan jendela kecil berjeruji besi ini di gunakan sebagai tempat penyimpanan mesiu (obat bedil). Sebenarnya ada 4 buah gudang mesiu di pulau Penyengat, namun yang lainnya sudah musnah.

Komplek Makam Raja Jaafar Yang Dipertuan Muda Riau VI (1806-1832)

Makam Raja Abdul Rahman Yang Dipertuan Muda VII

Sekiranya jika berkunjung/berziarah ke Makam para pendahulu kita, semoga kita di beri kemampuan untuk menyedekahkan Doa, Surat Yasiin atau minimal Al-Fatihah. Semoga beliau – beliau di ampuni khilafnya dan di berikan tempat yang baik di sisi-NYA. Semoga Doa – doa kita juga terijabah oleh Allah SWT. Amin.

Semoga artikel ini juga bermanfaat untuk pengetahuan dan mempertebal keimanan kita.

Jika ada kesalahan penulisan nama, tempat dan latar belakang sejarah, Mohon sekiranya saya di maafkan. Karena saya bukan Ahli Sejarah, saya hanya pelancong yang hobby travelling. Dan saya hanya salah stau dari Rakyat Indonesia yang mencintai Sejarah dan Eksotis nya budaya dan alam Indonesia.

– Wassalam –

Sumber : Penjaga situs dan buku sejarah Pulau Penyengat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s