Please, jangan egois di jalan raya.


Menanggapi sebuah jargon yang berkembang di tengah – tengah kita tentang celetukan yang sellau ada saat terjadi kecelakaan di jalan raya, seperti :

” Yah, walo bagaimana pun kendaraan yang lebih besar lah yang salah “

Sebenernya saya kepikiran udah sejak lama. Cuma ketika siang ini terjadi sebuah kecelakaan di depan mata saya (lagi) saya jadi teringat dengan ungkapan (sepihak) itu. Entah mengapa rasanya kok saya gak setuju. Tiba – tiba saja jargon itu berkembang dan seolah menjadi tradisi orang kita. Walaupun sayalumayan sering mengalami kecelakana di jalan raya, dan selalu menjadi korban, namun rasanya kurang pas saja jika ungkapan itu mendapat pembenaran.

Logika nya, walau bagaimana pun yang salah tetap lah salah (menurut saya). Tanpa kita sadari jargon itu semakin membuat pengendara roda dua atau kendaraan yang lebih kecil menjadi kurang aware dengan keselamatannya masing – masing. Padahal sudah beribu kali rasanya Polantas kita menghimbau untuk HATI – HATI, Utamakan keselamatan bersama. Tapi yang ada di jalan raya kebanyakan adalah ego. Ego untuk tergesa-gesa karena kita punya kepentingan mendesak misalnya. Ego untuk bisa menyalib kendaraan lain, ego untuk bisa nyelip di antara 2 mobil saat di lampu merah, padahal itu membahayakan.

Saya juga tidak menyalah kan pengendara roda dua, terkadang memang ada situasi yang bener-bener kendaraan besar yang sesuka nya.

– Nyetir sambil telponan/sms

– Nyetir sambil pacaran

– Nyetir sambil itung omset (buat kendaraan umum)

– Tidak menyalakan lampu sign saat berbelok

– Tidak menggunakan klakson secara bijak, padahal lampu hijau baru saja menyala. Yang di belakang pada ribut dgn klakson nya. Atau menggunakan klakson mobil truk (buat sepeda motor) buat gaya-gayaan. Alhasil pengendara sebelah yang jantungan pada kaget dan terjadi accident.

– Tidak memasang spion dengan alasan ga keren.

– Tidak menggunakan Helm yang standar atau tidak sama sekali dengan alasan biar keren dan jarak perjalanan yang dekat.

– Lampu belakang putus di biarin aja, akhirnya di tubruk dari belakang trus ngamuk-ngamuk.

– Suka ngambil jatah jalan orang lain alias berada di tengah – tengah markah jalan. Ini tipe pengendara ababil kali yah. mau ke kanan apa ke kiri ga jelas.

– Perawatan kendaaraan yang kurang hingga asap knalpot yang menghitam mengganggu pengendara di belakang nya.

– Knalpot yang cempreng (tidak asli) di pasang buat gaya -gaya’an membuat kebisingan dan akhirnya pengendara lain pada mangkel.

– Di tambah lampu kendaraan yang tidak standar, alias blink-blink atau menyilaukan, ini juga bisa menjadi penyebab kecelakaan.

– dll

Masih banyak lagi kesalahan-kesalahan kecil kita saat berkendara yang tanpa di sadari juga merugikan orang yang taat lalu lintas. Kesalahan yang seharusnya mudah untuk di taati. Hanya karena segelintir orang yang ingin di bilang “keren” yang lainnya jadi korban. Lalu saling menyalahkan dan urusan menjadi panjang jika sudah di bawa ke kantor polisi. Serba salah.

Lalu siapa sebenernya yang membudayakan jargon aneh tersebut ? Bagaimana jika fakta nya Mobil/kendaraan yang lebih besar tidak salah ? apa mau di salahkan dan di mintai ganti rugi hanya karena biasanya orang bermobil adalah orang yang kaya ? No !

Ayoo ! Buang ego masing-masing saat berkendara agar sama – sama nyaman. Karena yang bayar pajak juga bukan kamu sendiri. Aware dengan keselamatan bersama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s