Penyiar Radio (Part 1)


Penyiar Radio.

Adalah seseorang yang berada di belakang microphone saat anda mendengar radio. Tugasnya bukan hanya sekedar memutarkan lagu – lagu kesayangan anda dan memberikan informasi saja, padahal lebih dari itu.

Banyak orang yang masi memandang sebelah mata terhadap profesi yang satu ini di karena kan Penghasilan seorang Penyiar Radio yang biasa – biasa saja. Jarang sekali kita menemukan penyiar radio yang berpenghasilan besar, kecuali Owner atau Manajer nya. Tentu itu beda lagi, penyiar yah penyiar, yang biasanya langsung kontak dengan para pendengar nya. Orang yang tidak mengerti hanya akan berkata : ” Kalo hanya buat muterin lagu atau baca berita/info mah saya juga bisa “.

Tidak sesederhana itu. Penyiar selalu berfikir dan terus berfikir meskipun ketika break/ jeda iklan dan lagu. Mereka berfikir :

  • Bagaimana cara nya informasi yang di sampaikan dapat “sampai” dan di terima dengan baik oleh pendengar nya. Terkadang, maksud yang ingin kita sampaikan akan berbeda makna jika di terima oleh berbagai kalangan pendengar.
  • Bagaimana caranya pendengar Nyaman menikmati Radio dan Isi Siaran. Biasanya yang ingin di dengarkan oleh pendengar adalah Lagu, namun ada sebagian kecil pendengar yang cukup selektif memilih isi siaran radio. Tentu salah satu alasan orang bertahan dengan 1 channel radio adalah faktor Kenyamanan. Bisa itu karena Lagu – lagunya yang bagus, bisa itu karena Penyiarnya yang ramah, cerdas, santun dan friendly atau bisa juga karena teknik Mixing nya rapi. Semua nya 1 paket, dan ini tidak mudah melihat selera pendengar yang beragam.
  • Bagaimana cara nya menjaga EMOSI agar tetep stabil. Penyiar juga manusia biasa yang pasti akan sebel jika ada pendengar yang ngeyel, sok pinter, ngelunjak dll. Pernah saya menghadapi pendengar yang memaki-maki saya karena request lagu nya tidak sempat di on-air karena waktu yang terbatas. Bahaya sekali seandainya saya emosi dan menjelaskan dengan urat yang tegang. Ini akan merusak “Pencitraan” si Penyiar tersebut dan merusak Reputasi bendera Radio yang di sandang tentunya. Itulah mengapa kami selalu terlihat ceria dan senang, karena kami sebagai penyiar hanya ingin menebarkan aura positif bagi pendengar nya.
  • Bagaimana sebuah product dari Peng-iklan dapat sukses di pasaran.  Inilah bedanya “menjual/bicara untuk telinga” daripada menjual dengan langsung melakukan eye-contact. Sangat sulit, karena penyiar tidak tau bagaimana emosi si pendengar saat itu. Kami menyebut nya Improvisasi. Sedemikian cara kami lakukan agar produk tersebut sangat menarik. Seperti di artikel saya sebelumnya di Radio, pendengar hanya mendengar sekilas saja. Lalu kami bekerja dan berfikir keras, bagaimana yang “sekilas” itu bisa menjadi menarik, di ingat dan akhirnya di inginkan.

Masih banyak lagi tugas-tugas non-formal seorang Penyiar Radio yang tidak tertulis. Penyiar radio bisa sukses dan berpenghasilan istimewa jika ia mampu melihat peluang yang ada. Misalkan dengan menjadi MC, presenter, moderator dan lainnya yang berhubungan dengan Public Speaking.

Barangkali anda adalah salah satu orang yang berfikir bahwa seorang penyiar radio itu hebat karena serba tau. Padahal bisa jadi kami menyampaikan nya dengan membaca sebuah majalah, surat kabar atau menyalinnya dari internet. Namun penyiar radio berfikir lagi, bagaimana info yang biasa-biasa saja menjadi menarik atau bahkan Trend Topic di kalangan komunitas anda. Penyiar Radio tidak serta merta membaca persis (Text book) dari artikel yang ia sadur. Ia akan mengemas nya dalam bentuk prosa bahasa Aktif yang mudah di cerna. Misalkan, dengan mengubah sebuah informasi menjadi bahasa sehari – hari yang sopan.

Biasanya radio hanya membatasi maksimal Talk/open mic selama 1 menit untuk menyampaikan Informasi/adlibs/berita. Nah, tidak jarang seorang penyiar (yang hanya sekedar siaran) tidak mampu memanfaatkan 1 menitnya itu untuk menyampaikan kalima yang komunikatif. Hasilnya, muter-muter, belepotan atau info nya tidak “nyampe” ke pendengar nya. Hingga menimbulkkan reaksi negatif ” nih penyiar ngomong apa sih, ga jelas, ga penting, kumur-kumur, atau bahkan lebih extrem lagi, jayus”. Apalagi jika penyiar radio nya berusaha melucu namun tidak lucu alias gagal.

Saya pribadi, lebih suka menyampaikan informasi yang saya lihat sendiri kejadiannya, atau membahas seputar kegiatan sehari-hari. Ini akan lebih mempermudah penyampaiannya. Membuat script siaran itu penting minimal sebagai panduan di kala tiba-tiba penyiar gagap atau nge-blank ketika on air. Namun alangkah lebih baik nya jika membaca nya terlebih dahulu lalu menuangkannya dalam bentuk bahasa verbal sehari-hari. Gunanya adalah, supaya pendengar “tersentil” dengan aoa yang kita sampaikan.

Penyiar Radio juga adalah seorang provokator yang handal. Ia di haruskan memprovokasi pendengar nya ke arah yang positif. Memprovokasi orang lain untuk membeli produk yang sedang ia sampaikan, mempengaruhi orang lain untuk berbuat baik, membuat suasana hati pendengar nya senang, karena kami adalah penghibur. Beda tipis dengan tugas seorang Motivator.

Doktrin paling ampuh bagi saya pribadi adalah : Saya harus mampu mem-visualisasikan atau berimajinasi tentang, suasana hati, dan apa yang sedang di kerjakan pendengar ketika saya sedang On Air. Ini adalah hal sederhana yang mampu menyentil hati pendengar.

Pada akhirnya, saya harus membuat pendengar berkata : Ohh, iya yah atau Iya juga,bener ternyata. Saya akan merasa puas jika anda sudah mengeluarkan celetukan semacam itu. Artinya , anda setuju dan mengerti dengan apa yang saya sampaikan. Dan, berarti .. saya telah menyatu dengan anda🙂

Selamat mencoba.

Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s