Belajar Siaran berbonus Gila


Berawal dari cuma sekedar suka musik, suka beli lagu per album trus bikin rak sendiri di kamar. Ku kumpulin sampe kira2 cukup buat sok – sok siaran di rumah. Dulu sih saya masih fans yang suka geregetan kalo dengerin penyiar ngoceh. Pertanyaan pertama yang saya lontarkan ketika hobi mendengar radio adalah :

Hebat bener yah vokal si penyiar dan backsound biasa otomatis turun naik gitu di udara “.

Pertanyaan yang tidak lazim dan konyol atau bahkan bego buat seorang pendengar awam hahah.Ketika mendengarkan radio yang saya perhatikan bukan di materi siarannya atau lagunya, tapi membayangkan bagaimana sibuknya seorang penyiar ngoceh sambil pura2 seneng, pasti lah mereka ada bete nya.

Suatu hari kebetulah saya dan keluarga baru pindahan rumah. Bagian lantai 2 kebetulan masih kosong, nah disitulah tempat persembunyian saya kalo mau berlagak layaknya seorang “penyiar radio”.

Takut ketahuan nyokap, saya angkut lah radio compo beserta koleksi kaset-kaset saya tadi ke lantai atas.Jeng-jeng .. Deejay beraksi. Dengan bakat alami saya , saya menggunakan insting penyiar saya untuk mengepas2 kan lagu dengan lubang kaset di puter2 di mundur2 kan supaya saat di setel, lagu tidak kepotong. Lalu saya belajar ngomong di atas intro sekaligus menghafal intro lagu-lagu tersebut. Info yang sampaikan hanya tulisn yang tertera di kaset itu berupa , pencipta lagunya, label nya, song writernya, atau dengan sedikit mengomentari kalo – kalo penyanyi nya memiliki potongan rambut yang norak (menurut saya).

Berulang-ulang saya lakukan itu, dan disaat pergantian kaset pun saya selalu tetap terus ngoceh yang kadang saya juga ga ngerti apa maknanya. Saya sudah merasa semakin gila .. senyum2 sendiri, meniru suara penelpon dan peyiar sekaligus (oon banged) bahkan membayangkan belajar menghayati curhatan (pengalaman pribadi) yang saya buat sendiri dan saya pura2 siarin sendiri.

Hingga suatu hari ketahuan dengan nyokap saya, diam-diam doi mengintip dari celah tangga dan bertanya : kamu ngobrol ama siapa ?

Karena saya malu kalo ketauan gila, sekalian aja bilang lagi belajar gila -__-

Dan akhirnya saya baru tau kalo kegiatan saya memutar2 pita kaset ke depan belakang tersebut ada istilahnya, yaitu : Cueing atau Kiwing dalam bahasa kita. Yang makna harfiah nya adalah ISYARAT atau memberikan tanda / isyarat pada pita kaset dengan memutar ke belakang (ke kanan) 1 hingga 2x setelah terdengar Intro lagu. Ini supaya saat penyetelan lagu tidak terjadi jumping atau intro lagu tidak terpotong.

Dan gue juga baru tau, kalo sebenernya bukan vocal dan backsound naik turun secara otomotis itu hebat. Tapi ya Feder mixer nya di turun naikkan secara manual oleh penyiarnya. Dulu gaya siaran semacam ini masih oke banged, tapi seirinng perkembangan zaman, lebih baik tidak “memainkan” feder/ menaik turunkan feder saat Talk kalo tidak mau di katakan Jadul hehe.


Hayoo ! Gimana kamu memulai karir siaran mu ?

Pesan dari cerita ini :

Terkadang kita harus berani gila untuk di gilai.

One thought on “Belajar Siaran berbonus Gila

  1. hebaaaaaaaaaaaaaddddd!!! wuhuy..
    waktu itu pas SMA, gue di undang salah satu radio beken di bogor, ngewakilin basket sama OSIS. Naaahh.. pas disitu itu.. gue ngerasa.. wah.. keren ya bisa jadi penyiar, ketemu orang-orang baru, interview berbagai macam orang, muter-muterin lagu, nyenengin orang lebih tepatnya sih..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s