Cerita dari bocah penjual koran


Tertegun.

Miris.

Tak sengaja ketika aku dan sahabat ku berada di lampu merah simpang Kabil,Batam seorang anak perempuan kira-kira berusia 8/9 tahun menyapa.Sambil menenteng koran-korannya ia meminta tumpangan menuju simpang berikutnya (Ini bukan hal pertama bagi ku).Memang begitulah kesehariannya.Membantu mencari nafkah dan menghidupi diri dan keluarga kecilnya.Sempat terjadi dialog sesaat saat di dalam mobil menuju simpang jam,bahwa Ayah nya telah tiada hingga ia dan ibunya yang hanya pengasuh anak berfikir keras untuk berjuang agar tetap makan.Syukurlah ia mendapat bantuan uang sekolah dari pemerintah,Dana BOS.Ia sempat bertutur,terkadang malu di ledekkin karena tak mampu membeli seragam sekolah.Bergetar hati ku,Ya Allah .. sekilas bayangan masa kecil ku melintas.Betapa beruntung nya aku.Menghabiskan masa kecil tanpa harus berada di jalanan berjualan koran hingga jam 1 dini hari.

Aku menguatkan nya,tak perlu malu hanya karena itu.Belajar sungguh-sungguh lebih baik daripada memikirkan “apa kata orang”.Miris emang.Aku akan meng-kalkulasi penghasilannya :

Sehari,ia hanya mendapatkan upah sebesar : Rp 400,- / koran yang berhasil di jual.

Maksimal penjualan per harinya : 15 Koran

Rp 400,- x 15 koran = Rp 6.000,- / hari (yang bisa di bawa pulang)

Di kurangi dengan biaya angkot ke rumahnya , Tanjung Uncang : Rp 6.000 – Rp 3.000 = Rp 3.000,- (penghasilan bersih)

Dengan catatan : Kalau ia berhasil menjual 15 eksemplar per harinya,kalo kurang dari itu ???

Iseng-iseng ku kalikan saja sebulan : Rp 3.000 x 30 hari = Rp 90.000,-


Yaa Ampun,betapa mudahnya aku menghambur-hamburkan uang segitu.Sementara orang lain mencari uang segitu saja lelah nya setengah mati mungkin.Itulah alasannya kenapa harus pulang larut malam,hanya karena ingin menghemat ongkos pulang dan mencari tumpangan.Tentu tidak mudah bagi kita yang berada di dalam mobil mewah untuk memberikan tumpangan,selain alasan tingginya kriminalitas tentu masalah lain yang kita jadikan sebagai alasan.

Jauh di fikiran ku,aku terenyuh saat baru saja berkomunikasi dengan Ibu ku.Sudah lama rasanya tak mendengar cerita-cerita sedih nya.Dan emang selalu sedih (bagiku).Tak perlu jauh-jauh kalau hendak menggali “rasa bersyukur”,kakak laki-laki ku sendiri kini harus menjadi kuli kasar bangunan dengan gelar Sarjana Komputer nya.Bukan ingin meratapi atau pamer kesedihan.Aku hanya ingin mencambuk diri ini.Kakak ku yang menjadi tulang punggung mertua nya pun bersusah payah mencari nafkah,sementara aku disini sesuka ku saja ingin keluar masuk pekerjaan.Mereka ? Tidak punya pilihan.Mereka ? Tidak bisa mengeluh karena keterbatasan.Dan aku ? telah di berikan kesempatan serta Anugerah yang luar biasa namun aku masih terus mengeluh.

Aku jadi semakin mengerti nikmatnya bersyukur.

Aku jadi tertampar dengan kondisi.

Betapa aku sesungguhnya telah semena-mena terhadap diri ku sendiri.

Secerah peringatan yang sangat menohok hati.

Lalu aku bertanya pada hati ini,kenapa kita harus menolak membeli koran di simpang lampu  merah yang hanya Rp 2.000,- ?

Padahal biasanya kita tidak keberatan jika harus membayar parkir dengan harga yang sama.Bedanya,yang satu kewajiban dan yang satu nya kita anggap sunnah.Padahal dengan Rp 2.000,- saja harusnya kita bisa meringankan beban orang lain.Entah kenapa,rasanya sama berat nya ketika harus bersedekah.

Mereka yang ku ceritakan disini adalah penyempurna ku.Terima kasih telah menyentil jiwa ku.

PS ::

Dedicated to my brother .. Happy birthday,luv you.Mudah2an cepet dapet kerja yaa ..

Ntar kalo pulang,dibawain coklat yang banyak🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s