Aku yang Nakal.



Masa kecil ku sangat berwarna.Aku sangat beruntung karena merasakan banyak hal yang menjadikan ku seperti sekarang.Dari peristiwa-peristiwa yang menyakitkan hingga yang menyenangkan dan tak terlupakan.Istimewa.Beruntung nya aku ketimbang anak yang lain adalah aku masih mampu mengingatnya dengan jelas sampai hari ini.

Aku ingin memulainya dari sosok Jie tempoe doloe.Aku adalah sosok anak yang tidak rewel,pendiam dan cenderung senang menyendiri.Waktu bermain ku pun lebih sering sendiri dengan di temani permainan yang di belikan kedua Orang Tua ku,dan itu harus sama persis dengan kakak laki-laki ku.Aku mengalami Phobia boneka saat itu,bisa histeris dan menangis kencang.Aku alergi menggunakan gaun atau rok kembang yang di dalamnya ada kain berbentuk jaring-jaring (ntah apa namanya),Gatel tak tertahan kan.Alhasil setiap tradisi beli baju lebaran usai,gaunnya pun hanya sekali pakai dan di jatahkan ke ponakan-ponakan ku,mama ku pasti kesal.

Aku sangat dekat dengan kakak laki-laki ku,kemana pun dia bermain (mesti pun itu kotor) aku selalu ikut dengannya.Tak peduli selalu di “hajar” Mama karena main lumpur,tidak tidur siang dan hukuman nya adalah di Rotan pake gebukkan kasur,tali pinggang atau spu lidi (heheh).Terdengar Hardcore,tapi justru itulah tantangan yg membuat ku “agak” disiplin saat ini.Yang lebih menantang adalah disaat Mama merendam ku di dalam Drum setengah air,aku jera.

Masa kecil ku tidak mudah.Kedua orang tua ku selalu mengajari ku susah dan usaha untuk memiliki sesuatu.Ingin tas sekolah atau sepatu baru,aku harus belajar giat dan raport bagus.Aku rasa seluruh orang tua mengajarkan hal yg sama.Aku harus benar-benar berprestasi untuk mendapatkan barang yang ku inginkan.Jalan pintas nya adalah menabung,itu pun selalu ku congkel celengannya.Bandel !

Aku ingat betul saat Papa mengajari ku Sholat pertama kali nya.Setiap habis sholat Maghrib,ia meluangkan waktu nya 1 jam untuk membuat ku menangis tersedu-sedu karena belajar ngaji dan sholat.Pernah bahkan aku terkencing-kencing saat Papa melemparkan aku ke sebuah rumah Ngaji sahabatnya.Alasannya tidka sempat lagi.Guru ngaji ku saat itu galak,Mak Kin namanya (Istri Pak Syaiful) pengurus masjid Nurul Falah.Tiba-tiba tikar nya basah oleh rembesan ompolan ku (heheh).Cengeng !

Bicara soal ompolan,aku pun masin ngompol sampe kelas 6 SD.Woahh .. sampe-sampe Mama memberiku alas tidur khusus semacam Perlak.Hihih .. memalukan.Hanya karena males pipis aja sih sebelum tidur.

Di rumah,aku bukan anak yang cukup baik juga.Kadang suka nyolongin duit Mama cuma untuk beli Roti yg ada gulali warna warni di atas nya.Waktu itu harga nya cuma 50 perak.Mama ngomel-ngomel ga karuan.” Kenapa ga minta aja ? Kan ga harus nyolong ! “ sergah nya.Dan aku pun hanya diam tertunduk lesu,sambil menunggu hukuman berikutnya.Yap,esoknya aku ga di kasih uang jajan.Selalu ada ganjaran untuk sebuah kesalahan.Itulah yang ku ingat sampai saat ini .. Hingga suatu saat di awal Tahun 2009,aku mendapat sebuah artikel yang membuat ku menangis.

http://www.conectique.com/enlight_your_life/article.php?article_id=4320

Dikantor,Aku langsung menelpon Mama saat itu juga dan menangis sejadi-jadinya.Mama cuma bilang “Mama tahu koq,itu kan bagian dari kenakalan masa kecil mu,mama udah maafin ?”

Tertohok hati ini.Cuma bisa ngerasain getaran suara haru nya.Di tahun itulah aku mulai mem-Flashback awal hidup ku di Batam,bahwa tidak lah mudah mencari Uang.

Terima Kasih Mama,

Kau tak perlu menunggu aku menangis untuk memaafkan ku.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s