Kisah Seorang Operator SPBU Batam


Pernah ga sih ngeliat tanda ‘Dilarang Merokok” atau “Dilarang menggunakan Handphone” atau di larang ‘Menggunakan Kamera” atau juga tanda larangan “Di larang menghidupkan mesin” saat pengisian.

Suatu hari di SPBU, sopir mobil di sebelah saya dengan santai nya merokok sambil nelpon saat mengisi bensin. Di tambah lagi mesin mobil nya masih menyala. Sebelum operator SPBU nya ngamuk, entah kenapa kaki saya tiba-tiba melangkah ke arahnya dan bilang : “Heh, Pak ga liat tuh tanda larangan! Kalo loe mau mati, mati aja sendiri, jangan di sini! “

Entah keberanian darimana. Dan ternyata yang punya mobil adalah salah seorang berseragam Coklat. Ehmm .. (makin gondok). Doski kaget dan matiin rokoknya, matiin mesin dan turun dari mobilnya sambil matiin hape.

Mungkin bukan cuma 1 orang yang kita temui seperti ini. Siapa bilang kalo belum ada kejadian maka peraturan itu belum di taati? Kalo mau ada di buktiin aja kali yah. Berdasarkan pengalaman ini, saya mengundang salah satu Operator SPBU yang ada di Batam sebagai narasumber saya di Program I LOVE MY JOB. Selain saya ingin tahu perjuangannya skalian aja saya ingin mengorek2 sedikit informasi tentang “tanda larangan” tersebut.

Sebut saja namanya mbak Rina. Ia sudah lebih dari 5 tahun bekerja di SPBU sebagai Operator berstatus permanen. Bukan karena ga ada kerjaan yang lain tapi ia pure mencintai pekerjaan nya ini. Meskipun berpenghasilan pas-pasan ada 1 hal yang ia senangi dari sini, yaitu bertemu dengan orang berbeda setiap harinya dan bisa selalu menularkan energi positif lewat slogan nya” SENYUM, SALAM, SAPA”. Mudah2an sih bisa kita terapkan juga di lingkungan pekerjaan kita (apalagi yg di bidang pelayanan).

  • Motivasinya apa mba berkerja sebagai Operator SPBU ?

Saya senang bertemu dengan orang banyak dan menerapkan SENYUM, SALAM SAPA tadi mbak. Walaupun banyak pelanggan yang tidak membalasnya. (ketjam)

  • Bole tau ga, jam kerja nya gimana? Kan pelanggan butuh BBM ga liat waktu?

Kita tetap menerapkan sistem jam kerja, biasanya sih kita mulai buka dari jam 7 pagi. Cuma jam 6 itu udah wajib hadir mbak beres2, nyiapin smuanya aman dan bersih.

  • Singkat cerita, kan ada beberapa larangan tuh di SPBU. Seperti larangan merokok, menggunakan kamera, handphone dan menyalakan mesin. Apa sih maknanya?

Wahh kalau dilarang merokok udah jelas yah mbak, kalau dilarang menggunakan hape itu karena hape mengeluarkan gelombang elektromagnetik dan menyebabkan radiasi yg bisa menyebabkan hitungan digital liter bisa kacau dan gelombang elektromagnetic tadi bisa menimbulkan percikan api (walaupun kecil) tetap saja berbahaya. Kalau menyalakan mesin disaat pengisian yah jelas aja bahaya buat kendaraannya.

Jangan kan kita nelpon pake hape, hape tetep ON aja walau ga sedang online itu bahaya loh mbak. Kan tetep nyari signal. *Kena deh saya

  • Ada gak pelanggan yang bandel ?

Bukan ada lagi mbak, buanyak. Entah kenapa? Bahkan ada yang menjawab : “Kan belum pernah ada kejadian mbak, mana buktinya larangan itu?” (Nekat nih org). Tapi kami jawab dengan santun, apa harus menunggu kejadian dulu pak baru bapak percaya? Si pelanggan termangu dan membisu .. hihihi (ndableg)

  • Gimana sih cara menghadapi pelanggan yang masih nekat gitu?

Kita ga akan nyentuh kendaraannya sebelum ia mematikan rokok atau handphone nya. Pasti kita minta untuk menyingkir jauh-jauh terlebih dahulu, kalau udah selesai merokok/telponan nya baru bole kembali ke sini lagi (SPBU).

  • Pernah ada yang rewel ga mbak?

Pernah banget mba, bahkan sempet ada yang nantangin : “Suka-suka aku lah mau telpon siapa, hape hape aku kok! “ (berlogat sumatera). Ternyata masih belum mengerti mengapa di larang. Semua peraturan di buat kan pasti reasonable yah kan mba?

  • Apa ada sanksi bagi yg melanggar? Baik itu buat petugas atau pelanggan?

Kalau UU nya sih saya belum ngerti juga mbak, smoga aja ada dan di tempelin gede-gede yah disana.

  • Kembali ke sebelumnya, suka duka nya menjadi seorang Operator SPBU apa mba? Kan cewe nih ..

Banyak pelanggan laki-laki yang kadang ga sopan. melecehkan, tapi yaa sudah kewajiban saya untuk selalu senyum dan ramah. Harus ekstra sabar mbak. Trus kadang sekuriti disini tuh suka malakin, minta jatah uang.. (loh??? saya terheran2)

Kenapa jadi petugas/operatornya yang di palakyah? ini sih ga disetiap SPBU terjadi, hanya kebetulan saja di SPBU yang saya wawancarai ini. Kejam yah, menindas sesama rakyat jelata *halah.

  • Tapi kan enak tuh mbak, kerja di SPBU bisa dapet subsidi atau gratisan BBM ?

Siapa bilang mbak. Di tempat saya sih enggak, ga tau kalo di tempat lain. Boro-boro gretongan alias gratisan, kita juga beli kok sama seperti pelanggan biasa, bedanya ya kita dorong motor sendiri, croott kan sendiri bensin nya (hihiiihih)

Dan live interaktif berlangsung seru. lalu di closing talk Mba Rina menyebutkan sebuah kalimat yang cukup membuat saya terpana : Mbak, masih banyak yang mau saya ceritakan, tapi di balik layar aja yah? Hah, ada apa ini ada apa?

Ternyata, jangan pernah mengira profesi Operator SPBU itu santai – santai saja alias enak ga pake mikir tinggal crot cratt croot. Ada istilah nombok juga loh seperti tugasnya TELLER di bank dan itu harus langsung di ganti. Biasanya salah satu yg nyebabin nombok ya karena penggunaan handphone di SPBU tadi merusak hitungan digital BBM. Salah satu loh. Kasihan kan .. mereka mesti nanggung dosa kita – kita yang bandel ini. Emang ga seberapa, tapi kalo dalam 1 hari 10 orang bandel (pake hape) di SPBU gimana? Loh iya klo hitungannya nombok, kalo malah kita (pelanggan ) yang rugi gimana ??? Yaa makanya biar ga ada yg merasa di rugikan/diuntungkan, taati lah peraturan yg ada, jangan mentel..

Selain itu, Mba Rina curcol juga. Gaji/penghasilannya yang sudah permanen tahunan tidak jauh beda sama karyawan baru. Hanya pas-pasan standar UMK nya Batam saat ini (Rp 1.402.000) lebih dikit nya dengan karywan baru cuma Rp 18000,- berarti gaji mba Rina cuma Rp 1.420.000,- udah bertahun-tahun bekerja ? OOOO-EEEEMMM-JIIIIII. Pelit amat bos nya. Di batam yg serba aduhai gini harga2.

Mereka juga sering di mintai lembur (dipaksa), per jam nya lembur itu Rp 5000,- tapi kalau kita menolak untuk lembur langsung di potong gaji sebesar Rp 50.000,- per hari. Whatttt?!!!! (suara hati saya bergema :  Sepertinya manajemennya kacrut yah?)

Bersyukurlah kita .. yg mungkin penghasilannya lebih dari itu. Mba rina mengatakan : “Ini bukan masalah nominal mbak, tapi bagaimana kita menghargai diri kita dengan dapat selalu senyum dan sabar”

Sesaat saya merasa di tampar – tampar keliling. Am i ?

Sudahkah profesi kita mendidik diri kita? mengajari kita untuk menjadi manusia yang bermanfaat satu sama lainnya? Hanya di mulai dari hal sederhana, SENYUM, SALAM, SAPA.

Tapi kenapa ia bertahan ?

Karena ia MENCINTAI PEKERJAAN nya.  How about you?

 

2 thoughts on “Kisah Seorang Operator SPBU Batam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s